Segelas Kopi Luwak dan Writer's Block

Dari beberapa komentar di tulisan yang saya post kemarin, Selasa, 4 Oktober 2016, ada yang agak mengganjal dibenak saya. Komentar yang mengganjal itu ada di mana-mana: baik di grup whatsapp #ODOP, maupun di blog secara langsung. Khusus di grup whatsapp, bahkan sempat dibahas sedikit.

Malam itu, saya mulai mengetik sekitar pukul sembilan malam waktu Indonesia bagian Malang. Tulisan sejumlah 400-an kata itu akhirnya selesai dua jam kemudian. Bayangkan! Dua jam hanya 400-an kata. Sungguh sangat tidak produktif.

Pada awal-awal menulis, saya memang sedikit “terpesona”. Gerak kedap-kedip kursor di pojok kiri atas jendela microsoft word 2010 itu sebabnya. Ia menunggu saya. “Huruf apa, ya, yang akan dia ketikkan pertama kali?” Mungkin begitu ia menerka.

Keadaan saya itulah yang menjadi soal di komentar itu. Oleh Uncle Ik, saya disebut terkena jebakan kalimat pembuka. Istilah itu, dalam bahasa kerennya disebut block writing. Istilah ini merujuk pada keadaan di mana seseorang kehilangan kemampuan menulis.

Wikipedia mengatakan begini; Writer's block is a condition, primarily associated with writing, in which an author loses the ability to produce new work or experiences a creative slowdown. The condition ranges in difficulty from coming up with original ideas to being unable to produce a work for years. Throughout history, writer's block has been a documented problem.”

Dari penjelasan wikipedia, berdasarkan pemahaman bahasa Inggris saya yang miskin, dapat dipahami bahwa writer’s block adalah suatu kondisi yang kerap menyerang seseorang ketika menulis, di mana orang tersebut akan kehilangan kemampuan untuk menghasilkan sebuah tulisan. Jadi ini semacam penyakit yang menimpa seorang penulis. Penyakit ini sepupu dengan blank page syndrome.

Dari penjelasan lainnya, saya temukan bahwa penyakit ini ada tingkatannya. Dari stadium paling rendah, hingga stadium akut. Walau stadium paling ringan, penyakit ini juga menjengkelkan bagi sebagian orang. Untuk yang akut, bisa saja seseorang kehilangan kemampuan itu hingga tahunan.

Ada banyak cara agar keluar dari jebakan block writing ini. Brian Moreland, tinggal di brianmoreland.com, misalnya, memberi beberapa solusi agar seseorang bisa keluar dari jebakan block writing ini:

  1. Keluar dan tinggalkan segera garapan tulisan. Lakukan sesuatu yang kreatif  agar tetap melatih sisi kreatifitas otak.
  2. Menulis bebas. Habiskan waktu sekitar 15 menit atau lebih untuk menulis apa saja yang ada di otak. Tuliskan saja sebebas-bebasnya. Bisa jadi, akan ada banyak subjek tulisan. Biarakan saja. Kadang-kadang, ini justru akan memunculkan ide-ide baru.
  3. Menggerakkan badan. Bisa dengan latihan yoga, tai chi, atau sekedar pemanasan biasa.
  4. Singkirkan segala gangguan. Matikan handphone. Matikan internet. Bersihkan ruang kerja.
  5. Menulis lebih awal. Bisa selepas subuh. Atau kalau terbiasa tahajjud, bisa menulis setelah tahajjud.
Solusi-solusi ini adalah opsi. Hanya berdasarkan pengalaman Brian Moreland saja. Jadi, pilih saja sesuai dengan kebutuhan dan stadium kebuntuan masing-masing.

Sebenarnya, kalau merujuk pada sejarah para ulama, mereka juga kerap dihinggapi penyakit ini. Tapi mereka beda. Acapkali mereka justru melepas letih dan kebuntuan pikiran dengan berwuhdu lalu shalat sunnah mutlak. Dan, it’s worked! Mereka bisa menelurkan karya berpuluh-puluh jilid.

Kalau saya, kadang-kadang segelas kopi mampu meng-overcome penyakit block writing ini. Apalagi kopi Luwak. Seperti dua malam lalu, ketika tulisan untuk tantangan hari pertama di pekan pertama ODOP Batch 3 saya selesaikan dalam dua jam setelah beberapa lama terdiam terjebak. Dan itu berkat segela kopi seduhan istri. Kalau bukan kopi, mungkin lebih lama lagi selesainya. 

Mengapa kopi? Sebab, I have no problem with caffein. But, I have problem without coffe. 


Segelas Kopi Luwak dan Writer's Block Segelas Kopi Luwak dan Writer's Block Reviewed by Ibnu Basyier on Wednesday, October 05, 2016 Rating: 5

4 comments:

  1. Saya penulis pemula bang Ibnu. Makanya masih suka kaku kalau mau nulis/ sementara sedang nulis tapi gak tahu mau nulis kata-kata apa selanjutnya.

    Jadinya yh malah tulisan yang datar2 saja.
    Pernah nyoba kopi. Just Good day coffee actually, dan hasilnya...tulisan gak jadi2 tapi kopi tandas.huhuhh

    Dan, seperti komentku ini. Saya suka menulis ngasal begini. Ahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, saya juga pemula, kok. Gk beda.

      Gk, papa. Katanya, bagi penulis, lumrah kok namanya adanya writer's block. Pintar-pintar saja untuk keluar dari sono. Tips dari Brian Moreland di atas mungkin bisa dicoba salahs satunya...

      Eh, btw, ngoment begini, kan, namanya nulis juga. Gk papa ngasal, yang penting orang paham, kan?

      Delete
  2. Itu pe yakit saya saat ini niat mau nulis pas buka browser malah liat youtube .. 😥

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kalau begini kasusnya, segera matikan internet. Sama, saya juga kadang begini. Niatnya mau nulis, eh, malah berselancar di internet.... Hehehe

      Delete

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.