Masjid yang Disfungsi dan Kehilangan Esensi

Ketika Masjid Kehilangan Fungsi
Masjid, sebagaimana diketahui, berasal dari bahasa Arab. Artinya tempat sujud. Secara luas, diartikan sebagai tempat shalat. Dan itulah fungsi utama masjid: sebagai tempat shalat. Tetapi sayangnya, secara tidak sadar, kadang-kadang kita justru menjadikan masjid tidak sebagaimana mestinya. Bagaimana bisa?
.
Perhatikan dua ilustrasi berikut ini. Pertama:
.
Irsyad, Arsyad dan Rosyad suatu kali berada dalam sebuah safar. Mereka menggunakan sebuah mobil untjk sampai tujuan.
.
Di tengah perjalanan, mobil mereka hampir menabrak marka jalan. Irsyad yang bertindak sebagai sopir tidak dapat menahan kantuknya.
.
Menyadari itu, Arsyad segera sadar. Bahaya mengancam mereka. Ia tidak mungkin juga mengganti posisi sopir. Sebab hanya Irsyad yang memiliki SIM.
.
"Kita istirahat aja, dulu," kata Arsyad memberi opsi.
.
"Cari aja masjid terdekat. Kita istirahat di sana, sekalian shalat," timpal Rosyad yang duduk di tengah.
.
Akhirnya, Irsyad menepikan mobil di sebuah masjid besar dengan parkiran luas. Irsyad langsur keluar mobil dan istirahat kelelahan di beranda masjid yang sejuk.
.
Ilustrasi kedua:
.
Arman dan Armin sedang dalam perjalanan lintas kota. Keduanya berboncengan menggunakan Yamaha Vixion terbaru kesayangan Arman.
.
Di tengah perjalanan, Armin tiba-tiba mules. Perutnya melilit-lilit. Rupanya, sambel pedas yang dimakannya sebelum berangkat beraksi dalam perutnya.
.
"Man, cari masjid dulu," Armin meminta Arman mencari masjid untuk berhenti.
.
"Mau ngapain?"
.
"Mau buang air. Gak tahan, nih," kata Armin melas.
.
Jadilah Arman berhenti di sebuah masjid. Armin segera turun dan menuntaskan hajatnya.
.
Ilustrasi di atas memberi kita gambaran adanya pergeseran fungsi masjid. Pada ilustrasi pertama, dari yang fungsi utamanya sebagai shalat, masjid berubah menjadi rest area. Shalat hanya ritual yang dilakukan sambilan. Shalat dilakukan sekalian istirahat melepas penat.
.
Seharusnya, jika menyadari fungsi utama masjid sebagai tempat shalat, redaksi perkataan Rosyad tidak harus seperti itu. Ada banyak pilihan kalimat untuk menunjukkan bahwa shalat tujuan utama singgah di masjid, bukan sekedar istirahat.
.
Yang pertama masjid menjadi rest area, yang kedua lebih salah kaprah. Masjid bahkan menjadi tempat buang hajat. Perintah Armin kepada Arman untuk mencari masjid demi menuntaskan hajat mununjukkan seolah masjid adalah tempat buang hajat. Walaupun mungkin Armin tidak menyadarinya.
.
Disfungsi masjid ini tentu tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Setiap muslim harusnya menghormati masjid sebagai rumah dari rumahNya Allah. Sangat tidak layak menjadikannya sebagai rest area semata, apalagi sebagai tempat buang hajat.
.
Perbuatan mengalihfungsikan masjid ini, dari satu sisi, merupakan tindakan penistaan dalam Islam. Juga tidak beradab. Menistakan Allah dengan menjadikan rumahNya tidak sebagaimana mestinya. Menghina agama dengan menjadikan tempat tegaknya tidak sebagaimana seharusnya.
.
Tentu saja, istirahat di masjid atau numpang buang hajat di toiletnya tidak dilarang. Yang dilarang hanyalah sebagaimana di atas: mengalihfungsikan masjid sebagai rumah ibadah.
.
Maka, agar terhindar dari ketidakberadaban ini, kita harus memahami kembali esensi keberadaan sebuah masjid. Bahwa masjid didirikan untuk tujuan mulia. Tempat bertemunya hamba dan Raja-nya. Salah satu tempat yang menjadi sebab seseorang mendapat naunganNya di padang Mahsyar kelak. Ini pertama.
.
Yang kedua, kita harus menyadari bahwa memakmurkan masjid adalah tugas orang beriman yang percaya hari akhir. Memakmurkannya dengan mendirikan shalat di dalamnya. Bukan hanya dengan istirahat di dalamnya, lalu bisa dikatakan memakmurkan masjid. Tidak.
.
Kemudian, yang ketiga, memilih redaksi kalimat yang tepat. Inilah pentingnya berbahasa yang baik. Agar maksud dari ucapan dapat terpahami dengan benar. Seharusnya, Rosyad mendahulukan shalat dari istirahat dalam ucapannya. Pun Armin, seharusnya ia memilih redaksi yang tepat agar masjid tidak ditafsirkan sebagai tempat buang hajat.
.
Berkaitan dengan point yang ketiga di atas, maka yang keempat, selalu sadari bahwa masjid harus di hormati. Setelah tuntaskan hajat, sucikan diri segera. Lalu masuk ke masjid dan shalat tahiyatul masjid. Ini agar kita lebih bisa menjaga adab kepada masjid.
.
Begitupun kalau niatnya hanya istirahat. Mungkin karena waktu shalat masih lama. Maka, laksanakan shalat tahiyatul masjid terlebih dahulu, baru rebahan istirahat. Bukankah shalat adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan lelah badan dan jiwa?
.
Semoga dengan keempat hal ini, tidak ada lagi kejadian disfungsi masjid. Sehingga masjid benar-benar menjadi tempat tegaknya shalat.
.
WalLahu a'lam.
Masjid yang Disfungsi dan Kehilangan Esensi Masjid yang Disfungsi dan Kehilangan Esensi Reviewed by Ibnu Basyier on Tuesday, March 14, 2017 Rating: 5

10 comments:

  1. Replies
    1. Sama-sama. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah bertamu ke gubuk saya...

      Delete
  2. Mantap ilustrasinya.... Mnnjok..he

    ReplyDelete
  3. Good mas ibnu...

    Bagaimana jika orang yg pertama kantuk tak dapat beristirahat, karna terbatasnya tmpt pnginapan.. sehingga masjid menjadi salah satu tmpt tinggal untuk meninggalkan mudarat yang lebih besar yaitu kecelakaan?

    Bagaimana jika orang yg ingin membuang hajat, lantran keterbatasan tmpat selain masjid adalah salah satu pilihan..

    Selain masjid sebagai tempat sholat, menurut saya ada pula nilai kemanusiaan di dalamnya..

    Nanti buat judul juga ya.
    Fungsi Masjid dalam memulaikan manusia..hee



    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener. Masjid memang tidak hanya tempat shalat semata. Kita tahu, di zaman nabi, masjid adalah markas pergerakan dakwah dan sosial. Jadi, tetap ada sisi kemanusiaan yang dijaga melalui masjid.

      Hanya saja, saya mencoba mengkritisi sebagian kita yang ke masjid "HANYA" karena ingin istirahat dan buang hajat. Selepas itu, langusng pergi tanpa shalat tahiyatul masjid untuk memuliakan masjid.

      Delete
  4. Menusuk banget, mas..... Harusnya kita semakin sadar kalau masjid adalah rumah ibadah yang mesti kita hormati. Syukron atas peringatannya... Semoga menjadi i'tibar buat kita semua...

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.