Tentang Larangan

Setelah melakukan perjalanan jauh, umumnya orang akan merasa lelah. Peluh yang keluar membuat kurang cairan tubuh. Akibatnya kerongkongan mengering dan haus melanda. Maka air minumlah yang menjadi penawar dahaga. Tapi bagaimana jika berada dalam keadaan seperti itu lalu meminum air justru dilarang?
.
Itulah yang terjadi ketika Bani Israil menghadapi Jalut dan tentaranya. Setelah melakukan perjalanan ke medan pertempuran yang menguras energi, Thalut, raja mereka, justru melarang Bani Israil minum dari sungai yang mereka lewati. Boleh saja minum, tapi cukup sekedar penawar dahaga.
.
Tapi, bukan Bani Israil namanya jika tidak ngeyel. Merasa larangan itu tidak masuk akal, mereka justru ramai-ramai minum dari sungai tersebut. Tidak sekedarnya. Bahkan sepuasnya. Kecuali segelintir orang saja yang tetap mengikuti perintah Raja Thalut.
.
Akibatnya, pasukan besar itu justru berat untuk melanjutkan perjalanan. Medan perang di depan mata tak lagi sanggup mereka datangi. "Wahai Thalut, pergilah hadapi Jalut. Kami tak sanggup lagi untuk berperang," begitu kata mereka.
.
Akhirnya, Raja Thalut tetap berangkat. Bersama yang maish setia, perjalanan dilanjutkan. Mereka adalah yang tidak meminum air kecuali ala kadarnya saja. Dan yang tinggal adalah justru mereka yang benar-benar menuntaskan dahaga.
.
Begitulah. Singkat cerita, pasukan yang menipis itu akhirnya menang heroik. Raja Jalut yang lalim bersama bala tentaranya yang besar, kalah dengan izin Allah. Adalah Daud, bocah belasan tahun, yang membunuh Raja Jalut yang tinggu besar. Kelak, sepeninggal Thalut, Daud akan naik tahta menjadi raja sekaligus Nabi Bani Israil.
.
Larangan meminum air sungai itu sebenarnya adalah ujian. Thalut ingin mengetahui siapa di antara pasukannya yang benar-benar beriman dan siap berperang. Siapa yang taat, dan siapa yang bisa diajak berjuang. Dan terbukti, hanya sedikit yang benar-benar lulus ujian.
.
Kadang-kadang memang kita suka berpikiran pendek. Ada larangan yang dirasa tidak masuk akal, dilabrak saja. Atau menganggap larangan itu tidak prinsip, dan dilanggar saja. Atau mengira larangan itu bukan dosa besar, lalu ditabrak saja.
.
Padahal, efek dari melanggar larangan itu adalah melemahnya persatuan. Walau pelanggaran yang dilakukan kebanyakan Bani Israil itu terlihat sepele, tapi efeknya dahsyat. Lebih dari separuh yang akhirnya mengundurkan diri dari pasukan.
.
Maka, esensi dari sebuah larangan adalah bagaimana kita taat pada aturan. Bukan pada ringan atau beratnya larangan tersebut. Atau kecil besarnya dosa yang ditimbulkan. Yang penting adalah taat pada garis ketentuan. Menahan diri agar tidak melanggar larangan.
.

Tentang Larangan Tentang Larangan Reviewed by Ibnu Basyier on Friday, July 28, 2017 Rating: 5

3 comments:

  1. Maka, esensi dari sebuah larangan adalah bagaimana kita taat pada aturan.

    Lalu lalalalaa terbang di kepalaku😖

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu hanya nasehat untk diri saya pribadi mbak Hikmah.... Ndak usah dimasukkan ke kepala ta'.

      Delete

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.