Jangan Ngaku Kaya, Kalau Masih Pakai Ini

Awas, tulisan ini berpotensi membuat saya dianggap sok bijak. Ini tulisan untuk membuka hati, bukan untuk men-justifikasi.
.
Dalam budaya masyarakat kita, strata sosial biasanya dilihat dari kekayaan harta. Semakin banyak hartanya, semakin tinggi status sosialnya. Atau paling tidak, ia mendapat kedudukan tersendiri di mata orang-orang sekitarnya. Sayangnya, banyak orang yang mengaku kaya atau dianggap kaya oleh orang sekitarnya, tapi masih miskin cara hidupnya.
.
Pemerintah melalui program bersubsidinya memberikan kemudahan-kemudahan untuk masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah. Mereka adalah orang-orang miskin atau rentan miskin. Di antara program itu adalah beras bersubsidi atau beras untuk rumah tangga miskin yang disingkat dengan Raskin.
.
Pada awal peluncurannya, raskin diberikan sebanyak 15 kg setiap bulannya untuk satu keluarga miskin. Setiap kilogramnya, beras itu dihargai 1.600 rupiah. Harga itu sudah disubsidi oleh pemerintah sehingga lebih murah dari harga beras lain.
.
Selain raskin, pemerintah juga mengeluarkan program subsidi kesehatan yang disebut dengan jamkesmas. Ia merupakan akronim dari jaminan kesehatan masyarakat. Dengan program ini, orang miskin bisa berobat gratis di puskesmas dan rumah sakit kelas III milik pemerintah.
.
Selain dua di atas, masih banyak lagi program-program subaidi lainnya dari pemerintah untuk rakyat miskin. Seperti potongan tarif listrik, potongan harga untuk sewa rumah, potongan harga pupuk, biaya sekolah melalui program BOS, dan subsidi BBM. Selain berbentuk potongan harga, pemerintah juga pernah mengeluarkan program BLT alias bantuan langsung tunai.
.
Yang patut disayangkan adalah, adanya segelintir orang yang mengaku dirinya mampu, tapi masih menggunakan program bersubsidi tadi. Entah sadar atau tidak, sebenarnya inilah orang-orang yang kaya (atau dianggap kaya) tapi hidup dengan cara-cara miskin.
.
Contoh paling dekat adalah penggunaan LPG subsidi. Pada April 2017, kementrian ESDM mengungkap adanya potensi pembengkakan subsidi LPG 3 kg sebesar 10 triliun rupiah. Apa sebabnya?
.
Salah satunya adalah subsidi yang tidak tepat sasaran. Artinya, LPG 3 kg yang seharusnya peruntukannya untuk rakyat miskin, ternyata iuga digunakan oleh kalangan masyarakat mampu. Itulah sebabnya, ada pembengkakan dana dari 20 triliun yang dialokasikan dari APBN tahun 2017.
.
Ini bukti bahwa banyak orang kaya yang ternyata masih hidup dengan cara miskin. Atau dengan kata lain, menganggap diri mampu, tapi masih menggunakan barang subsidi milik rakyat miskin.
Ini miris sebenarnya. Bukankah pada tabung LPG 3 kg sudah ada tulisan "hanya untuk masyarakat miskin"? Maka orang kaya dan mampu yang menggunakannya adalah orang miskin menurut tabung gas tersebut. Bukan saya yang mengatakannya.
.
Jangan Ngaku Kaya, Kalau Masih Pakai Ini Jangan Ngaku Kaya, Kalau Masih Pakai Ini Reviewed by Ibnu Basyier on Friday, July 21, 2017 Rating: 5

8 comments:

  1. Replies
    1. Ah, bisa jadi memang karena LPG non subsidi yang susah ditemukan kali yak?

      Delete
  2. Termasuk orang miskin jadi-jadian itu yaa.. Atau malah sbaliknya? Orang kaya jadi-jadian?
    Xixixi

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Wah, makasih mas sudah mampir. Saya tidak tahu harus berkata apa. Tapi, tulisan ini sih maksud saya hanya ingin sedikit mengusik sisi jenaka hati masing-masing. Bukan bermaksud sok bijak. Walau memang kata orang saya keren. :-D

      Delete
  4. Hai Mas Ibnu. Pedas juga tulisannya hehe, jadi memunculkan komen negatif hehe.... Tp buat saya ini tulisan keren, jelas banget tujuannya. Seharusnya yg baca bisa terbuka hatinya seperti peringatan Mas Ibnu di openingnya. Tapi kenapa ya masih ada yg komen negatif? Keep on fire ya Mas.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.