Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Asrama 2

Kecenderungannya, orang lebih suka diperlakukan baik oleh orang lain. Tapi sayangnya, terkadang, ia sendiri tidak memperhatikan kelakuannya kepada orang lain, baikkah atau tidak. Begitu pula soal keadilan. Tak terkecuali santri.

Acap kali, ada santri datang mengadu dan meminta diperlakukan adil kepada ustadznya. Ia melihat, ada ketidaksamaan perilaku yang ia dapatkan dari ustadz. Ia merasa, ia dibedakan dari santri lain. Temannya lebih banyak diberikan perhatian dan reward. Dan giliran punishment, ia diberi lebih berat temannya. 

Di sisi lain, si santri tidak ingat. Bahwa ia pernah juga mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari yang didapatkan temannya. Tidak dari saya, bisa juga dari ustadz lain. Atau ada juga kesempatan di mana saya memperlakukan ia lebih baik dari santri lainnya. Tapi, ya, mungkin saja ia lupa.

Seperti si Imran, misalnya. Ketika ia meminta keringanan hukum bersebab kakinya yang sakit, tentu itu lebih menguntungkan menurut orang lain. Sebab yang lain jalan jongkok, tapi dia seorang hanya push-up. Benar mereka sama-sama dihukum. Yang beda hanyalah bentuk dan jenis hukuman. Dan itu tidak adil di mata temannya yang lain.

"Ustadz, kok si Adit dapat izin dan saya tidak. Kenapa, Tadz?" Imran mencoba mencari keadilan. Satu temannya mendapat izin keluar. Sedang dirinya tidak mendapatkan kesempatan  berharga tersebut. 

Kalau saja Imran tipe pengingat yang baik, maka itu baik. Bahwa ia pernah mendapat perlakuan yang terkesan lebih menguntungkan bagi dirinya. Di mana ketika itu, orang lain mendapatkan perlakukan yang berbeda. Sehingga ia tidak perlu mengadu bahwa ia telah diperlaukan dengan tidak adil.

Tapi sayangnya, itu tidak terjadi. Membandingkan Adit yang dapat izin dengan dirinya yang dilarang keluar, adalah bentuk protes atas ketidakadilan yang ia rasakan. Dan ia merasa dirugikan atas perbedaan perlakukan tersebut.

Inilah jawabannya. Keegoisan diri telah menutup mata hati. Imran tidak merasa keberatan ketika diperlakukan istimewa dengan hukuman yang ringan. Sebaliknya ia merasa dirugikan ketika ia tidak mendapatkan izin keluar asrama. 

Memang begitulah manusia. Termasuk santri. Kadang karena terlalu sibuk dengan diri sendiri, ia lupa dengan orang lain. Dalam menyikapi sesuatu, ia hanya melihat dari sudut pandang dirinya sendiri. Tidak melihat dari sudut pandang orang lain. Bagaimana dampak dan efek yang diterima ornag lain tidak dipikirkan.

"Ustadz, saya gk enak sama anak-anak. Kami, kan,  sama-sama santri. Gak enak saya ditraktir makan begini, sedang yang lain tidak." Seorang santri yang saja ajak makan diluar berkomentar. Nampaknya ia merasa tidak enak karena saya perlakukan istimewa. 

Tapi sayangnya, itu hanya khayalan saja. Tidak benar-benar terjadi. Atau -lebih bijaknya-, belum terjadi. 


Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Asrama 2 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Asrama 2 Reviewed by Ibnu Basyier on Friday, April 21, 2017 Rating: 5

No comments:

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.