Poligami Amanah

Malam itu saya ikuti sebuah acara. Sebuah acara lesehan sarasehan pendidikan yang digagas Departemen Pendidikan Pusat. Masih merupakan rangkaian acara pelatihan kepala sekolah se Indonesia.

Acaranya bertempat di masjid. Pemateri dan peserta duduk sama rata. Pemateri di depan. Peserta duduk dengan formasi letter U menghadap ke pemateri. Di depan, ada ustadz Syahid sebagai pemateri. Juga ada pak Rally sebagai moderator.

Saya bukan peserta. Karena ada beberapa kenalan yang ikut acara, saya datang untuk silaturahmi. Ada bekas kepala sekolah saya di Makassar. Ada juga adik kelas yang kini jadi kepala sekolah di ujung Sulawesi Selatan. Ada juga kawan sealmamater di Balikpapan dulu. Kini jadi penanggung jawab pendidikan di daratan Maluku. Ada juga senior yang banyak amanahnya di Banjarmasin.

Melihat acaranya yang santai, saya memberanikan ikut duduk. Namanya sarasehan, acaranya lebih kepada sharing pengalaman dan permasalahan. Pemateri yang merupakan sesepuh ArRahman -lembaga tempat saya mengabdi sekarang- sharing pengalaman. Peserta yang sedang merintis dan mengembangkan sekolah sharing permasalahan.

Di antara sekian banyak pengalaman dan permasalahan yang terlontar, saya tertarik dengan sebuah istilah yang baru saya dengar malam itu. Istilah ini, sejatinya, menjadi problema dan polemik lembaga. Di kampus mana saja. Sama saja. Yang berbeda hanya cara menyikapi saja, mungkin.
Seharusnya, acara sudah harus berhenti. Sebab jadwal sudah lewat. Tapi beberapa tangan masih terangkat teracung. Tanda masih ada yang ingin berbagi dan ditanggapi.

Di sinilah istilah itu muncul. Sebenarnya, kita sering menyebutnya dengan rangkap jabatan. Sebuah istilah yang merujuk pada seseorang yang memiliki jabatan lebih dari satu.

Lucunya, kalau bisa dibilang demikian, istilah itu dipelestekan menjadi "poligami amanah". Menurut salah satu peserta asal Kalimatan yang angkat tangan itu, istilah itu merujuk pada seorang nama. Dialah sahabat saya dulu di Balikpapan. Entah dia dengar dari mana. Yang jelas, dulunya, dia memang suka membuat istilah yang eksentrik.

Walau rada sedih mendengar curhat tentang praktik rangkap jabatan ini, saya juga agak terhibur. Peserta kebanyakan juga malah senyam-senyum. Bahkan pemateri meminta mengulang istilah baru itu karena belum nangkap.

Dari curhatnya, saya ketahui beberapa hal. Ada kawan saya di daerah yang diamanahi sebagai kepala kepengasuhan di pondok. Juga diserahi amanah mengurus sekolah tingat dasar yang baru berjalan dua tahun. Di sisi lain, ia juga mendapat amanah mengurus dakwah dan perkaderan di tingkat wilayah. Belum lagi amanah di PD dan yayasan. Totalnya, ada sekitar lima-enam amanah struktural yang ia emban.

"Bagaimana praktik poligami amanah di ArRahman?" tanyanya kemudian.

ArRahman, dari awal berdiri hingga sekarang masih berdiri, juga mengenal poligami amanah. Hanya saja, bedanya, praktik poligami di ArRahman tidak meluas dan melebar. Kalaupun meluas, tidak sampai meluber. Intinya, praktik poligami masih satu irisan.

Poligami dalam satu irisan artinya tetap dalam fungsionalitasnya. Masih linear. Saya, misalnya. Kalau suatu saat diamanahi kepala sekolah, mungkin juga akan berpoligami dengan amanah direktur 2 bidang pendidikan. Di tingkat PD, saya (cocok, mungkin) diserahi tanggung jawab bidang pendidikan. Begitu seterusnya. Jadi, antara amanah yang satu dengan yang lain, ada hubungan kekerabatan yang erat dan dekat.

Kalau amanah sebagai kepala asrama, cocok jadi ketua bidang perkaderan. Cocok juga berpoligami dengan bagian kesiswaan di sekolah. Begitu seterusnya. Diperjelas lagi, bahwa intinya, tetap satu irisan.

Bedanya di daerah (sebagaima curhat peserta tadi), poligaminya lintas platform -kalau merujuk istilah dunia tekhnologi. Pakai android, pakai blackberry, pakai juga ios punya iphone. Tidak ada kenikmatan maksimal yang didapat. Android tidak maksimal digunakan. Blackberry tidak habis dinikmati. Iphone hampir mubazir fiturnya.

Praktek poligami amanah di tempat lain (masih sebagaimana curhat tadi), juga demikian. Ya dakwah-lah, sosial-lah, pendidikan-lah, dan sebagainya-lah. Belum lagi bisnisnya yang harus dipikirkan. Akhirnya, pikirannya terbelah. Tidak fokus. Pikirannya terpecah. Tidak terpusat. Tidak ada amanah yang maksimal dikerjakan.

"Kalau begitu, bolehkah dicerai salah satunya?"

Pertanyaannya semakin panas. Untung, Malang dingin kalau malam. Jadi, walau terasa panas, tetap terasa hangat karena dekapan ukhuwah. Maka, ketika mendengar pertanyaan lanjutan seperti itu, peserta malah tertawa. Hahaha..

"Ya, kembali ke kebijakan masing-masing daerah saja," kata ustadz Syahidp menengahi.

"Intinya, tetap linear dengan dengan amanah lainnya. Masih satu irisan," tambah moderator.

Sinergi Pendanaan

Selain soal pologami, ada juga peserta asal Sulawesi Tengah yang curhat soal perhatian.
"Kami ini di daerah, ustadz," katanya, "minim betul kasian perhatian."

"Saya ingat dulu, Sekolah Alam kami dijadikan proyek percontohan beberapa sekolah lainnya. Selang beberapa waktu kemudian, sekolah kami mengalami stagnasi. Bahkan hampir mati. Sekolah yang datang mencontoh tadi, karena ditopang pendanaan memadai, lebih maju dari sekolah kami." Curhatnya panjang lebar.

"Nah, maksud saya," lanjutnya, "cobalah kami di daerah ini, di beri perhatian sedikit lah. Jangan hanya diambil ilmunya, terus dilupakan. Misalnya, alumninya dikirim ke daerah untuk pengabdian, SDM yang berlebih digeser, dan sebagainya."

"Tapi yang paling utama, sih, dukungan pendanaan," katanya menegaskan dengan dalih adanya sekolah yang banyak surplusnya.

"Ada baiknya, jaringan Sekolah Integral ini saling bersinergi, utamanya dalam pendanaan," lanjutnya sambil berharap.
Poligami Amanah Poligami Amanah Reviewed by Ibnu Basyier on Wednesday, April 19, 2017 Rating: 5

2 comments:

  1. Memang kalo fkus ksatu bidang rasanya sulit. Sdangkan bnyak yg harus disunting. Mau gx mau hrus brbuat adil dlm poligami..
    He

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.