Matematika Pernikahan

Selesai dengan urusan administrasi perkuliahan tahun akhir, saya segera pulang kampung menuntaskan rindu yang tertahan dua tahun terakhir. Puas lepas kangen, saya kemudian segera bertolak ke tanah baru untuk amanah baru yang menanti.
.
Di tempat baru ini, saya seperti terasing. Tidak ada kenalan, tidak ada handai taulan, tidak ada kawan. Semuanya serba baru. Kenalan baru, kawan baru. Tapi tidak membutuhkan waktu lama, saya mampu beradaptasi dengan baik. Hingga tak terasa sudah hampir sebulan saya dengan amanah baru tersebut.
.
Mengira keuangan akan membaik setelah melihat natura pertama, saya langsung pasang target prioritas. Untuk ukuran seorang bujang seperti saya, nominal natura itu memang lumayan besar. Apalagi dengan fasilitas kerja yg menggiurkan; makan-minum gratis 3 kali sehari dan tempat tinggal nyaman dan aman tanpa bayar.
.
Setelah menghitung pemasukan skala tahunan dengan patokan naturan pertama, saya target tahun depan bisa melanjutkan kuliah S2. Harus segera, pikir saya. Karena tahun berikutnya, target saya adalah menikah. Juga, kalau saya lanjut S2 tahun depan, masih tergolong fresh graduate.
.
Manusia punya rencana, tetapi Allah yang punya qadha. Beberapa bulan terbuai mimpi, rupanya saya cepat terbangun sebab regulasi. Karena status saya di tempat kerja, saya harus rela menerima potongan sekian persen dari natura bulanan. Praktis, total bersih yang saya terima sejak bulan keempat tinggal beberapa lembar ratusan ribu rupiah lebih beberapa puluh ribu.
.
Sadar akan situasi dan kondisi, saya segera mencoret S2 dari daftar target tahunan. Hitungan kasar saya setelah ada regulasi baru, duit sejumlah itu belum cukup menjadikan saya sebagai mahasiswa lagi jika dikumpul hingga 12 bulan. Terlebih lagi, saya belum berfikir mengambil jalur beasiswa. Maka, S2 tahun depan dipastikan gagal.
.
Apa keinginan kita, ternyata belum tentu sejalan dengan maunya Allah. Baik di mata kita, belum tentu demikian di hadapanNya. Allah menggagalkan rencana S2 di tahun tersebut, dan Allah juga yang mengganti dengan ketentuan terbaiknya.
.
Rupanya, Allah memang punya pengganti yang lebih indah. Begitulah rencanaNya yang selalu diluar dugaan. Tidak ada yang bisa mengaturNya. Tidak ada bisa merubah ketentuan dan rencanaNya. Siapa sangka, kegagalan melanjutkan studi S2 diganti dengan kabar menggembirakan. Saya mendapat tawaran untuk langsung menempuh S3. Kok bisa?
.
Ya, gagal lanjut S2, sebuah tawaran datang. Oleh seorang dosen di kuliah S1 dulu, saya ditawari untuk langsung nyari S3. Ya, S-tree. Alias istri. Saya ditawari menikah. Dan usia saya masih 22 tahun ketika itu.
.
Menikah yang seharusnya menjadi target saya untuk 2-3 tahun mendatang akhirnya harus dimajukan. Tawaran itu begitu menggiurkan. Hitungan mudahnya, saya tidak perlu repot mencari calon istri. Saya cukup mempercayai ustadz saya yang tahu kondisi saya luar dan "dalam". Sehingga saya yakin dia tahu bagaimana calon istri idaman menurut saya.
.
Ketika menyanggupi tawaran menikah tersebut, kawan saya bertanya heran. "Ente kuliah S2 aja gak bisa karena biaya. Kini ngomong mau nikah?" Dalam hati, saya membenarkan. "Mau dikasih makan apa itu anak istri nanti?" Belum sempat saya jawab, ia menyudutkan dengan satu pertanyaan lagi.
.
Hingga akhirnya, sekitar pertengahan 2013, saya pun menikah. Usia saya masih terlalu muda ketika itu. Tapi kata ustadz saya, kesiapan menikah itu bukan dilihat dari faktor usia. Tapi dari mentalnya.
.
Satu yang saya yakini adalah FirmanNya. Untuk urusan nikah, jika secara materi dinilai kurang, maka Allah akan beri kecukupan. Cukup untuk hidup bersama, walau secara matematika naturanya kurang.
.
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
.
Allah berfirman, "Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."
.
Inilah matematika pernikahan. Kuatkan mental, siapkan hati. Kemudian, tanamkan keyakinan bahwa Allah akan mencukupkan kebutuhan hidup. Bukankah tiap makhuk sudah ada jatah rezekinya masing-masing.
.
Matematika Pernikahan Matematika Pernikahan Reviewed by Ibnu Basyier on Wednesday, April 26, 2017 Rating: 5

11 comments:

  1. kadang selalu yang tidak disangka sangka ya, yang penting selalu baik sangka sama Allah aamiin

    -M
    http://www.inklocita.com/2017/04/yantra.html

    ReplyDelete
  2. Memang benar, rencana kita blm tentu sama dengan scenario Alloh. Fan Alloh selalu menggantinya dengan yang lebih Indah.

    ReplyDelete
  3. Yeeyy masya Allah😀😀
    nikah muda bikin kita sadar, Allah Maha Keren😆

    Gak usah risaulah, Mblo😊😊

    ReplyDelete
  4. Wallllaaah .... hebaaat nya ... menikah muda itu luar biasa kyaknya

    ReplyDelete
  5. Keren banget!!!

    Sekarang sudah berapa tahun setelah menikah, Mas??

    Apakah S2 nya masuk dalam daftar pencapaian lagi??😊

    ReplyDelete
  6. Matematika Allah tidak akan sama dengan matematika manusia kan, Mas Ibnu? Terkadang peruntungan atau rezeki datang dari arah yang tak kita sangka :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.