Dilema Sebuah HP

Sore tadi seperti biasa saya duduk di pojok belakang masjid. Tempat itu memang menjadi tempat favorit saya. Sambil bersandar memperhatikan sore yang ramai dengan suara-suara klakson mobil dan motor mencoba mengalahkan suara para santri yang sedang murajaah hafalan.
.
Dan, di sinalah saya, di tempat favorit saya di pojok belakang masjid, duduk sambil menunggu. Mungkin di antara mereka yang sedang murajaah ada yang ingin menyetorkan hafalan baru. Mungkin pula ada yang ingin tanya ini itu tentang pelajaran mereka di sekolah pagi tadi, atau sekedar curhat tentang guru mereka yang banyak memberi tugas tambahan. “One hundred vocabulary,” kata mereka seperti biasa.
.
Sore tadi, seperti biasa saya masih duduk di tempat itu. Beberapa santri mengantri untuk memperdengarkan hafalan baru mereka. Ketika antrian itu berakhir, tiba-tiba, seseorang datang menghampiri saya. Yah, seperti biasa saya harus siap dengan berbagai curhat, tentang apa saja. Dan seperti biasa saya harus siap dengan jawaban-jawaban yang harus menenangkan.
.
Tetapi, seseorang itu tidak curhat seperti yang dilakukan kawan-kawannya yang lain. Hanya datang dengan sedikit informasi yang selama ini saya selalu ingin ketahui. 
.
“Ustadz, tau ndak kenapa si Alif tidak tuntas hafalannya,” katanya mengawali pembicaraan.
.
“Nggak, tuh,” jawab saya sekenanya. “Emang sudah sampai mana hafalannya?” saya tanya lebih lanjut.
.
“Yah, Ustadz gimana, sih. Kok pake gak tau. Dia itu kan baru sampe surat al-Fajr.”
.
“Oh, iya. Lali Ustadz, le. Lha, trus kenapa kok masih sampe di situ hafalannya?”
.
“Nah, itu dia Ustadz masalahnya. Hidupnya sekarang adalah SMS.”
.
“Maksudnya?”
.
“Si Alif itu Ustadz, kalo di kamar sms-an aja kerjanya. Mana pernah ada sejarahnya dia pegang al-Qur’an, apalagi ngafalin surat.”
.
“Oh, gitu toh.”
.
Dialog saya dengan santri tersebut akhirnya terputus adzan Maghrib. Saya yang sedari awal mendengarkan dengan acuh tak acuh sebenarnya mulai mencerna dan menghubungkan rantai yang berserak. Sholat Maghrib saya akhirnya sedikit terganggu dengan dialog itu. Dan, membuat saya membuat dialog sendiri dengan hati. “Oh, ternyata begitu, ya!”
.
Setelah sholat sunnah yang singkat (emang hanya dua rakaat, kan?) saya mencoba membuat sebuah hipotesis.
.
***
.
Terkadang, kita memang melihat sesuatu itu hanya dari satu sisi saja. Contoh paling dekat dengan kita adalah diri ini sendiri. Kita memiliki hati nurani yang tidak pernah berdusta. Di lain sisi, kita juga memiliki lisan yang mampu mengungkapkan apa saja yang diinginkan. Hati dan lisan kita merupakan dua istrumen yang saling melengkapi. Tetapi, kita masih terlalu sering hanya menggunakan lisan tanpa menyertakan hati kita.
.
Dalam kehidupan berasrama juga seperti itu (loh, dari mana nyambungnya? :D...) Si Alif, misalnya. Orang tua si Alif misalnya adalah contoh orang tua yang sangat mengharapkan didikan pesantren mampu membuat anaknya berubah. “Yah, setidaknya saya tidak harus bertengkar lagi dengannya di rumah,” kata Ayahnya menjelaskan suatu ketika. Dalam keluarganya, Alif adalah anak pertama yang memiliki dua orang adik. Kehidupan mereka boleh dikata lebih dari cukup.
.
Ketika membuka obrolan dengan orang tuanya pada awal-awal masuk, saya melihat betapa harapan orang tua tersebut sangat besar terhadap anaknya, Alif. Harapan agar Alif bisa menjadi lebih baik, lebih berprestasi, dan yang utama mampu terjaga dari lingkungan sosial yang tidak baik.
.
Harapan adalah harapan. Sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Yang menjadi soal kemudian adalah ketika apa yang mereka harapkan bertolak belakang dengan yang mereka lakukan. Apa itu? Membolehkan anaknya membawa handphone; sesuatu yang sangat dilarang keberadaannya di tempat ini. Dilarang, karena handphone banyak menjadi sumber kerusakan remaja hari ini.
.
Bertolak belakang? Iyalah! Bagamana mungkin orang tua mengaharapkan anak mereka menjadi anak yang baik dan di saat lain mereka membiarkan anak mereka menggunakan handphone? Jika mereka –keduaorangtua- mampu menjaga anak mereka dari kerusakan moral oleh penggunaan handphone, itu wajar. Sebab, lingkupnya masih di rumah, dan masih bisa dikontrol. Tapi, ini sekolah berasrama. Di asrama, orangtua mereka adalah murobbi/musyrif. Mereka yang menggantikan posisi orang tua selama di asrama. Jika di rumah orang tua bisa mengontrol penggunaan handphone anaknya yang berjumlah 3 orang, bagaimana seorang murobbi/musyrif mampu mengontrol mereka, sedang jumlah mereka 30 orang?
.
Dan, coba lihat apa yang anak-anak lakukan dengan handphone tersebut. Sms-an, telpon-telpon-an, twitter-an, facebook-an, dan sebagainya. Dan, kegiatan seperti inilah yang kemudian membuat Alif, dan yang lainnya lupa dengan tujuan mereka masuk pesantren. Tidak ingat lagi bahwa setiap sore harus menyetorkan hafalan baru. Tidak bergairah lagi mengikuti pelajaran di sekolah. Dan, inilah yang terjadi.
.
Bagaimana solusinya? Mari kita pikirkan bersama.
.
[Hari ke-14 30DWC Jilid 4]
[Fighter Squad 8 dari Empire of Writer]
Dilema Sebuah HP Dilema Sebuah HP Reviewed by Ibnu Basyier on Tuesday, February 14, 2017 Rating: 5

2 comments:

  1. Saya yakin, suatu saat nanti Gus Ibnu akan menjadi The New Gus Mus (Ahmad Mustofa Bisri). Eyang Kakung yang senantiasa memberikan pencerahan bukan hanya di dunia nyata, tapi juga lewat dunia maya.

    Tulisan-tulisan Gus Ibnu sungguh membuat perasaan saya menjadi nyaman sehabis membacanya.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.