Iman dan Monopoli Fasilitas Umum

Saya kadang heran dengan orang-orang yang suka memonopoli fasilitas umum untuk kepentingan segelintir orang, atau bahkan kepentingan pribadi. Tidak hanya heran. Kadang kalau sudah mencapai klimaksnya, keheranan itu berubah menjadi kejengkelan, kekesalan dan kemarahan. Memangnya itu punya moyangnya?

Acap kali lewat di jalan-jalan kecamatan, ada tumpukan material bangunan yang meluber sampai ke badan jalan. Bahkan menutupi setengahnya. Akibatnya, arus yang sudah demikian padat, malah semakin padat merayap.

Resepsi pernikahan, acara wisuda kelulusan, kirab budaya, jalan sehat dan banyak lagi. Ini contoh kegiatan-kegiatan yang kadang kesannya memonopoli fasilitas umum, utamanya jalan, baik jalan poros, jalan raya, jalan kampung, lorong-lorong, dan semua jenis jalanan. 

Sayangnya, saya dan mungkin pengguna jalan lainnya bingung ke mana harus mengadu. Kepada siapa harus berkeluh kesah. 

Maka, ketika suatu kali saya punya kesempatan untuk mengungkapkan isi hati soal ketidaksetujuan dengan praktek monopoli fasilitas umum, saya langsung skak mat.

Kisahnya begini. 

Hari itu adalah weekend. Hari istirahat setelah lelah sepekan bekerja mengejar asa. Beda dengan anak-anak didik saya, hari itu adalah hari untuk melepas penat selepas ujian tengah semester. Dan karenanya, saya mengajak mereka merumput di lapangan futsal. Ada 25 orang yang ikut. Walau pikiran lelah, mereka tetap semangat mengeluarkan keringat agar fisik tetap fit dan stabil.

Kami booking dua lapangan untuk bermain tiga jam. Lapangan nomor 3, dapat satu jam. Dan di lapangan 4, kami bermain 2 jam. Awalnya, hanya ingin sewa 1 lapangan saja. Tetapi sayang beribu sayang, semua lapangan tidak menyisakan jam lebih dari tiga. Jadi diakomodir saja tiga jam untuk dua lapangan. Walau bermain di lapangan paling belakang, tak apalah. Yang penting bisa bermain. 

Menggunakan dua angkutan kota, anak-anak berangkat ke lapangan. Jaraknya lumayan. Dengan berjalan kaki, akan membutuhkan banyak kalori. Jika demikian, belum bermain futsal, tenaga sudah habis duluan.

Tepat jam 9 lewat beberapa menit, sebuah bel berdentang keras. Ini adalah tanda bahwa waktu bermain telah habis. Game over. Saatnya meninggalkan lapangan. Sebab akan digunakan orang lain untuk bermain.

Setelah beberapa saat melepas penat, saya balik kanan untuk pulang. Anak-anak juga demikian. Tepat di ujung lapangan tempat kami bermain sebelumnya, ada tali rapia melintang menghalangi jalan kami. Di tengah lintangan itu, tertulis pesan seperti ini: Dilarang melintas, kecuali panitia dan pemain. Di dua lapangan sebelah kami tadi, sedang ada kompetisi. Mereka nyewa dua lapangan; 1 dan 2.

Karena lapangan 1 dan 2 ada di bagian depan, otomatis kami harus lewat depannya jika ingin keluar kompleks lapangan itu. Tapi, panitia kompetisi itu memonopoli jalan. Saya tidak terima. Saya terus saja jalan dan masa bodoh dengan melewati tanda larangan memintas itu.

Sampai di ujung lainnya, saya dicegat seorang panitia. "Maaf, mas. Dilarang lewat sini."

Saya yang sering merasa jengkel ketika fasilitas umum dimonopoli langsung meradang. "Sampean juga nyewa jalan ini, selain sewa dua lapangan itu?"

Si panitia kaget. Ia tak menyangka mendapat serangan pertanyaan seperti itu. Dalam bingungnya, saya langsung cabut meninggalkannya. Biarlah, kata saya dalam hati, itu menjadi bahan evaluasinya. Bahwa, memang benar mereka sedang ada kompetisi menggunakan dua lapangan bersisian yang dibelah oleh sebuah jalan untuk sampai di dua lapangan lainnya di bagian belakang. Tapi itu tidak berarti mereka boleh seenaknya melarang orang untuk melintas di jalan tersebut. Apalagi pihak pengelola tidak mengumumkan dilarangnya lewa di jalan tersebut.

Demikianlah. Walau setelah jauh saya juga merasa gak enak dan berdosa telah membuat mereka merasa bersalah, di sisi lain saya bersyukur telah memberi mereka pelajaran. Mereka adalah mahasiswa. Terbiasa berfikir logis dan kritis. Harapan saya, dengan kejadian itu mereka mampu merubah pola pikir soal fasilitas umum, utamanya jalan. 

Kiranya, ini juga berlaku untuk kita semua. Jangan sampai hanya karena kepentingan beberapa orang saja, kita mengabaikan kepentingan orang yang lebih banyak. Mungkin saja, menurut hukum kita di Indonesia, itu dibolehkan. Tapi, menurut saya, kalau memang dibolehkan, alangkah baiknya kita memberi informasi awal akan terganggunya kepentingan orang banyak karena kita. Dengan demikian, orang tidak akan kaget ketika hari H tiba. 

Salah satu tanda keimanan adalah tergeraknya tangan untuk memindahkan gangguan di jalan yang sering dilalui manusia. Lah, kalau kita justru mengganggu jalannya manusia, lalu di mana iman kita?

Wallahua'lam.

[Hari ke-10 30DWC Jilid 4]
[Fighter Squad 8 dari Empire of Writer]
Iman dan Monopoli Fasilitas Umum Iman dan Monopoli Fasilitas Umum Reviewed by Ibnu Basyier on Friday, February 10, 2017 Rating: 5

6 comments:

  1. Untung masih ada jalan lain yang bisa dilalui. Saya pernah jengkel sejengkel-jengkelnya ketika semua akses jalan menuju kontrakan ditutup gegara hajatan, Gus.

    Akibatnya, saya harus menitipkan sepeda motor, lalu blusukan ke pekarangan orang untuk pulang ke kontrakan.

    Semoga dengan tulisan Gus Ibnu ini, orang-orang yang selama ini kecanduan memonopoli fasilitas umum, bisa berpikir ulang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini hanya curhat, mas Heru. Hehehe... Dan karena sudah membudaya, kita hanya bisa merutuk dalam hati saja. Gk mudah untuk merubahnya..

      BTW, makasih udah singgah di "gubuk" saya.

      Delete
  2. Saya jg prnh mngalami yg seperti ini.jln dtutup krn ad yg gelar hajatan. Muter2 sana sini ktemu hajatan lg. Akhirnya waktu yg shrusnya bisa sampai dilokasi 15 mnit molor jd 1 jam lbh dikit cm krn muter2 nyari jln...

    ReplyDelete
  3. Iya mas ibnu. Hal yang bgitu tuh menyebalkan. Semoga saya dihindarkan dari ketidak adilan macam itu hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, belum pernah, yah?
      Jangan coba-coba deh. Ntar mengalami kejengkelan yang berkelanjutan. Hehehe

      Delete

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.