Meneladani Ulama Salaf yang Merindu al-Quran


Para ulama salaf dikenal dengan semangatnya dalam menuntut ilmu. Terkhusus dalam menghafalkan, mempelajari dan mengamalkan nilai al-Qur’an.

Banyak banyak di antara  mereka mampu menyelesaikan hafalan dalam waktu relatif singkat.  Hisyam bin Muhammad alKalbi, pengarang al-Jamharatu di al-Ansab, menyelesaikan hafalannya hanya 2 hari saja –setelah ia bersumpah mengurung diri di rumah dan tidak keluar sampai hafal. Amir asy-Sya’bani, masih tergolong tabi’in yang menjadi ulama di Kufah. Ia menyelesaikan hafalan hanya 40 hari saja.

Di zaman itu juga, hidup Abu Wail, saudara kandung Ibnu Salamah yang menjadi imam besar di Kufah. Ia sezaman dengan Nabi, tetapi belum sempat bertemu wajah. Walau demikian, ia menuntaskan hafalan dalam waktu 2 bulan.

Ibnu Syihab az-Zuhri, selesai hafalannya dalam 80 malam. Abdullah bin al Laban, guru al-Khatib al-Baghdadi,  telah hafizh al-Qur’an ketika menginjak usia 5 tahun.

Selain singkat, mereka juga hafidz di usia sangat muda. Imam Malik, penemu Mazhab Maliki, adalah seorang guru besar hadits yang pertama kali mengumpulkan hadits dalam buku. Ia dikenal dengan semangat belajarnya yang tinggi, kekuatan hafalan dan kedalaman pemahaman. Sejak belia, ia telah hafal al-Qur’an.

Nu’man bin Tsabit, Mazhab Hanafi, sejak kecil, telah hafal al-Qur’an. Kelak, ia menjadi pelopor dalam ilmu fiqih dan berhasil membangun dasar-dasar pembelajaran fiqih.

Muhammad bin Idris alias Imam Asy-Syafi’i, dikenal sebagai peletak dasar ilmu Ushul Fiqih. Usia 6 tahun, ia tuntaskan hafalan al-Qur’annya. Ahmad bin Hanbal adalah ahli fiqih dan ahli hadits di zamannya. Ia pemilik Mazhab Hanbali. Ia berhasil menghafal secara sempurna di usia 10 tahun.

Bagaimana Mereka Menghafal?

Dalam menghafal al-Quran, para salaf tidak mementingkan jumlah hafalan. Mereka lebih fokus pada banyaknya mengulang. Imam Syafii dikenal paling cepat dalam menghafal. Sekali membaca, langsung terekam. Walau demikian, beliau masih harus mengulang sebanyak 40 kali.

Imam az-Zuhri juga demikian. Satu ayat akan diulangi sebanyak 70 kali. Padahal, Imam yang juga dikenal dengan Ibnu Syihab ini menuntaskan hafalan al-Qur’an hanya 80 malam. Catatan lain, ada juga salaf yang mengulang sebanyak 100 kali, bahkan ada yang sampai 500 kali. Pengulangan inilah yang menjadi kunci keberhasilan mereka dalam menghafal.

Ini sesuai dengan anjuran Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, “Wahai manusia, kerjakan dari amalan itu apa yang kalian sanggupi. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu walau sedikit.”

Para ulama salaf sangat rindu hadirnya al-Quran. Mereka menghadirkan al-Quran dengan rindu dan cinta, ibarat rindunya seorang kekasih. Saking mendalamnya cinta mereka terhadap al-Qur’an, saat itu beberapa kasus pembedahan tidak dirasakan walau tanpa pembiusan. Sebeb mereka saat itu menghiburnya dengan bacaan al-Quran. Inilah yang membedakan mereka dengan orang-orang belakangan.

Sesungguhnya, manusia diciptakan dengan kemampuan berbeda-beda. Maka, dalam menghafal, tidak perlu menyamakan diri dengan orang-orang yang mudah dan cepat dalam menghafal. Cukuplah mengukur kadar diri, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tanpa harus membandingkan dengan kemampuan orang lain. Yang jelas, saatnya kita semua memulai menghafal agar hati kita mulai merindu dengan al-Quran.

Wallahu a’lam bis-shawab.

[Hari ke-2 30DWC Jilid 4][Fighter Squad 8 dari Empire of Writer]

Meneladani Ulama Salaf yang Merindu al-Quran Meneladani Ulama Salaf yang Merindu al-Quran Reviewed by Ibnu Basyier on Friday, February 03, 2017 Rating: 5

4 comments:

  1. Subhanallah...mntp artikelny...jadi motivasi tuk trus blajar...krn bljar gx pndang usia.

    ReplyDelete
  2. Ya Alloh...speechless banget...keren banget

    Kapan bisa meniru mereka

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.