Tetangga Kafir yang Islami


Sebelum menempati rumah dinas yang sekarang ini, saya pernah jadi kontraktor. Rumah yang saya kontrak berada di tengah-tengah pemukiman warga. Di apit oleh rumah-rumah warga lainnya dari berbagai arah; kanan-kiri dan depan-belakang.

Sebagai kontraktor, tentu saya adalah orang asing bagi warga setempat. Dan karena penampilan saya yang mungkin mirip ustadz, bisa saja ada orang yang curiga. Apalagi istri saya bercadar.

Namun, Alhamdulillah, di kontrakan tersebut, saya bertetangga dengan orang-orang yang baik. Saya dan keluarga selalu mendapatkan cipratan kebaikan mereka.

Di antara tetangga-tetangga yang baik itu adalah seorang wanita tua yang tinggal tepat di sebelah kiri rumah saya. Ia selalu mengunjungi saya dan keluarga. Ia datang dengan hasil kebunnya. Sekali waktu dengan gabin dan sekilo gula dari warung sebelah.

Kala sore menyapa, istri saya kadang keluar sekedar mencari angin. Menemui para tetangga yang juga sering keluar sore. Tak lupa, ia bawa serta dua anak terkecil kami. Keduanya pun sukses menarik perhatian kumpulan ngrumpi sore ceria itu.

Wanita tua itulah yang paling senang melihat polah anak kami. Cucu semata wayangnya memang sudah agak besar. Tidak lucu lagi. Sehingga ia pun menjadikan anak kami sebagai hiburam hari tuanya. Mungkin karena itulah, ia sering datang ke rumah kami.

Setelah masa kontrakan habis, saya akhirnya menempati rumah dinas. Dengan berat hati, saya harus meninggalkan mereka. Dan semua kebaikan-kebaikan yang mereka miliki. Hingga akhirnya, tuntutan pekerjaan membuat saya hampir lupa dengan mereka.

Hingga suatu hari selepas idul fitri. Saya dikagetkan dengan kunjungan si wanita tua bekas tetangga saya. Ia datang dengan putri yang memboncengnya dan cucu lelaki semata wayangnya.
Saya yang tidak meninggalkan alamat, heran dengan kedatangannya. Saya tiba-tiba merasa berdosa telah memutus silaturahmi dan muamalah.

"Saya tanya ke mas Agus, mas," katanya memberi penjelasan sebelum saya tanya.

Rumah dinas saya yang berada di sebuah kompleks, tentu beda dengan rumah sebelumnya yang berada di perkampungan. Tapi, demi tetap berjalannya silaturahmi, ia mencari rumah dinas saya. Subhanallah.

Saya baru merasakan. Ternyata, inilah (mungkin) efek dari ikromul-jar. Nabi, dalam salah satu sabdanya, memang memerintahkan untuk memuliakan tetangga.

Ketika kita baik dan memuliakan tetangga, tetangga tentu akan membalas dengan hal serupa. Kebaikan itu memang menular. Satu kebaikan, akan melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya.

Padahal, ya Allah, dia bukanlah seorang muslim. Tapi, dalam hal bertetangga, ia begitu islami. Saya merasa kalah darinya.
Sejak itu, saya mulai menjalin silaturahmi lagi dengannya. Kedatangannya di rumah dinas saya membuat saya malu. Harusnya, sayalah yang datang mengunjunginya. Bukan dia yang justru susah mencari.

[Hari ke-5 30DWC Jilid 4]
[Fighter Squad 8 dari Empire of Writer]
Tetangga Kafir yang Islami Tetangga Kafir yang Islami Reviewed by Ibnu Basyier on Sunday, February 05, 2017 Rating: 5

No comments:

Terima kasih telah berkunjung. Semoga pulang membawa manfaat. Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan di komentar....

ads
Powered by Blogger.